Setelah Hadramaut dan Al Mahra kembali sepenuhnya berada dalam kendali pusat di bawah Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC), perhatian kini beralih pada agenda yang tak kalah krusial, yakni rekonstruksi ekonomi pasca-rekonsiliasi. Stabilitas keamanan yang mulai terbangun dinilai sebagai momentum emas untuk memulihkan roda ekonomi yang lama tersendat.
Para pengamat menilai, langkah awal yang seharusnya segera dilakukan adalah menghidupkan kembali kontrak-kontrak usaha yang sebelumnya mandek. Banyak proyek investasi dihentikan atau dipersulit akibat dinamika politik dan intervensi Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung Uni Emirat Arab.
Dengan berkurangnya hambatan politik tersebut, pemerintah pusat didorong untuk memberikan kepastian hukum bagi investor lokal maupun asing. Kepastian ini dinilai penting untuk mengembalikan kepercayaan dunia usaha yang sempat hilang selama bertahun-tahun konflik.
Hadramaut sebagai salah satu wilayah dengan potensi ekonomi terbesar di Yaman diproyeksikan menjadi lokomotif pemulihan. Sektor energi, pelabuhan, dan perdagangan dinilai dapat kembali bergerak jika didukung kebijakan yang konsisten dari pusat.
Aktivasi kembali bandara dan pelabuhan menjadi agenda prioritas berikutnya. Bandara Al Mukalla yang sempat kehilangan peran strategisnya diharapkan kembali beroperasi penuh sebagai penghubung utama wilayah timur Yaman.
Hal serupa juga berlaku untuk pelabuhan-pelabuhan di Mahra, Shabwa, dan Abyan yang sebelumnya praktis mati suri. Pemerintah pusat diminta segera melakukan perbaikan infrastruktur dan sistem keamanan agar fasilitas tersebut dapat berfungsi optimal.
Konektivitas dinilai sebagai kunci utama pemulihan ekonomi kawasan selatan. Tanpa jalur transportasi yang hidup, distribusi barang, mobilitas manusia, dan arus investasi akan tetap terhambat.
Dalam konteks jangka panjang, wacana menghidupkan kembali proyek jalur kereta api dari Aden hingga perbatasan Oman dan Arab Saudi kembali mencuat. Proyek ini disebut-sebut pernah masuk dalam perencanaan strategis nasional sebelum perang pecah.
Jika terealisasi, jalur kereta api tersebut tidak hanya menghubungkan kota-kota utama Yaman selatan, tetapi juga membuka koridor perdagangan regional. Keterhubungan langsung dengan Oman dan Saudi diyakini mampu mendongkrak posisi Yaman dalam rantai logistik Jazirah Arab.
Selain infrastruktur dasar, pemerintah juga didorong untuk menghadirkan proyek-proyek simbol kebangkitan ekonomi. Salah satu gagasan yang muncul adalah pembangunan megaproyek ikonik di sekitar Mukalla.
Menara pencakar langit berskala internasional, mirip Burj Khalifa di Dubai atau Menara Jeddah, disebut dapat menjadi ikon baru Yaman. Proyek semacam ini dinilai mampu menarik investasi, pariwisata, dan perhatian global.
Mukalla dipandang memiliki posisi geografis strategis untuk menjadi pusat ekonomi dan bisnis baru di pesisir Arab. Dengan stabilitas dan perencanaan matang, kota ini berpotensi berkembang melampaui perannya selama ini.
Di luar sektor fisik, investasi sumber daya manusia juga menjadi sorotan. Pendidikan murah, khususnya pada jenjang pascasarjana, dinilai sebagai fondasi utama pembangunan jangka panjang.
Pemerintah pusat diharapkan memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda Yaman selatan. Program beasiswa dan universitas terjangkau diyakini mampu menciptakan kelas profesional baru.
Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan Yaman pada tenaga asing dan bantuan luar negeri. SDM berkualitas dianggap sebagai aset strategis yang paling berkelanjutan.
Rekonstruksi ekonomi pasca-konsolidasi juga dipandang sebagai ujian nyata bagi PLC. Keberhasilan tidak lagi diukur dari kemenangan politik, melainkan dari perbaikan kesejahteraan rakyat.
Masyarakat di Hadramaut dan Al Mahra menaruh harapan besar pada perubahan arah kebijakan ini. Selama bertahun-tahun, mereka berada di tengah tarik-menarik kepentingan regional yang menghambat pembangunan.
Stabilitas yang mulai terwujud membuka ruang baru bagi dialog ekonomi dan rekonsiliasi sosial. Pemerintah pusat didorong untuk melibatkan elite lokal dalam setiap tahap pembangunan.
Pengamat menilai, kegagalan memanfaatkan momentum ini akan menjadi kerugian besar bagi Yaman. Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, selatan Yaman berpotensi menjadi pusat pertumbuhan baru di kawasan.
Dengan kombinasi stabilitas politik, rekonstruksi infrastruktur, dan investasi pendidikan, Yaman selatan diharapkan mampu bangkit. Pasca konsolidasi PLC, tantangan terbesar kini bukan lagi konflik, melainkan keberanian untuk membangun masa depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar